Thursday, October 14, 2010

014. Minarwan

RIWAYAT SINGKAT

1998: Lulus S1 Teknik Geologi, UGM, Indonesia
2002: Lulus S2 Petroleum Geoscience, Oxford Brookes University, Inggris
2009: Lulus S3 Geosciences, Monash University, Australia

1998 – 2004: Premier Oil (Jakarta, Indonesia)
2007 – Sekarang: Repsol Exploración SA (Madrid, Spanyol)

Saya tidak pernah bercita-cita ingin kuliah di jurusan Teknik Geologi sama sekali saat masih bersekolah di SMA Negeri 1 Toboali, Bangka. Pilihan untuk mempelajari geologi muncul tanpa didasarkan pada informasi yang cukup, bahkan sebenarnya tidak ada informasi sama sekali, selain sebuah paragraf di buku panduan memilih jurusan di universitas yang tersedia di perpustakaan sekolah waktu itu.

Memilih sesuatu tanpa tahu apa yang dipilih tentu mengandung resiko lebih tinggi bagi munculnya kesalahan. Pada tahun pertama kuliah di UGM, saya merasa telah salah memilih jurusan dan berpikir hendak memilih jurusan lain. Tetapi setelah mempertimbangkan faktor keuangan, waktu yang terbuang dan indeks prestasi semester pertama dan kedua, saya memutuskan untuk berusaha menyelesaikan studi di Teknik Geologi walaupun merasa tidak suka dan kesulitan. Berkat kesungguhan belajar, studi S1 bisa saya selesaikan di penghujung tahun 1998, saat badai krisis ekonomi telah memporak-porandakan Indonesia.

Berawal dari ketidaktahuan tentang geologi dan merasa telah salah memilih jurusan; kerja keras, semangat untuk terus belajar, bimbingan, bantuan dan doa dari banyak orang telah membawa saya ke tempat-tempat yang tidak pernah saya impikan. Ilmu geologi telah memperluas cakrawala pengetahuan saya tentang proses-proses alamiah yang terjadi
di bumi dan membuat saya bisa menjelaskan kejadian-kejadian pada masa lampau hingga bisa diaplikasikan untuk mencari sumber daya alam. Ia juga telah memberi saya banyak pengalaman, baik pengalaman indah maupun kurang menyenangkan, yang semuanya memperkaya hidup dan menciptakan berbagai kesempatan dalam karir profesional.


PENGALAMAN BERHARGA
Periode awal berinteraksi dengan dunia industri adalah masa pembelajaran dan adaptasi yang selalu melekat di benak saya. Pada masa ini, saya menjumpai banyak hal baru yang tidak pernah saya alami ketika berada di lingkungan kampus. Setiap hari di kantor menjadi hari yang menyenangkan karena ada begitu banyak hal yang bisa dilakukan dan dipelajari. Fasilitas di sebuah kantor yang relatif lebih baik daripada fasilitas milik kampus membuat semua pekerjaan terasa lebih mudah diselesaikan. Semangat untuk tahu lebih banyak tentang semua hal membuat hari tak pernah terasa membosankan.

Saat mendapatkan kesempatan melakukan Kerja Praktek di kantor Premier Oil di Jakarta, saya berjumpa dengan bapak-bapak yang berprofesi sebagai juru gambar alias drafter. Mereka membimbing saya hingga bisa menggunakan program-program seperti CorelDraw, Neuralog dan Neuramap. CorelDraw adalah salah satu program untuk menggambar yang sangat
bermanfaat sebelum fungsinya digantikan oleh aplikasi menggambar yang berada dalam workstation pada saat ini. Bagi geologist yang selalu berhubungan dengan peta dan sayatan geologi, program tersebut mempermudah proses pemindahan hasil kerja yang dibuat secara manual ke dalam sebuah presentasi atau proses pembuatan sebuah poster (montage). Pada saat saya melanjutkan studi di Inggris dan Australia, CorelDraw juga banyak membantu saya dalam membuat gambar-gambar yang perlu dimasukkan ke dalam laporan tugas akhir dan disertasi. Sebuah bantuan yang awalnya terlihat sepele telah diberikan oleh bapak-bapak drafter
Premier Oil dengan penuh ketulusan dan ternyata bermanfaat hingga sekarang.

Selain mendapatkan bimbingan dalam mempelajari berbagai program, saya juga memiliki mentor-mentor yang sarat pengalaman di bidang eksplorasi migas. Mereka adalah tempat saya bertanya, belajar dan meminta nasehat. Mereka selalu meluangkan waktu dan dengan sabar mengajarkan berbagai macam konsep di dunia geologi eksplorasi. Para mentor ini
juga sekaligus adalah motivator-motivator yang sangat baik. Mereka mampu membangkitkan semangat keingintahuan dan memberikan tantangan-tantangan baru agar saya bisa mengeluarkan performa yang lebih baik. Kisah-kisah pengalaman serta kebijaksanaan sikap dan
pikiran mereka juga menjadi sumber inspirasi dan panutan hidup saya.

Pengalaman berharga yang lain saya dapatkan saat ikut dalam proyek studi kualitas reservoir batupasir di unit bisnis Premier Oil di Islamabad, Pakistan. Di dalam proyek ini, tim kami mendapatkan tugas yang sangat menantang dan sekaligus penting bagi rencana pengeboran
satu sumur di tahun yang sama. Studi dilaksanakan sekitar bulan Juni-Agustus 2003 dan saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan analisis data yang telah dikumpulkan oleh rekan setim ke dalam sebuah database. Demi bisa melakukan analisis data sumur dengan baik, saya
berusaha mencari berbagai makalah yang telah dipublikasikan oleh banyak ahli terkemuka untuk dijadikan pembanding dan patokan dari sisi metodologi analisis. Hasil studi ini dapat digunakan untuk mendukung pengeboran dan secara umum, sasaran proyek dapat kami capai. Selain itu, saya juga mendapatkan banyak tambahan informasi, ilmu, teman dan pengalaman baru bekerja di luar Indonesia.


PENGALAMAN YANG KURANG MENYENANGKAN
Pesawat terlambat lepas landas adalah hal yang lumrah dan sudah sering terjadi walaupun mengesalkan. Namun, pesawat telat lepas landas dicampur dengan rasa kantuk dan letih yang luar biasa serta masih harus mendengar omelan penumpang ke arah pramugari sekitar jam 4.30
dini hari (kebetulan bapak yang marah-marah duduk tepat di belakang saya di kelas bisnis) sempat membuat saya ikutan emosi juga. Kemarahan dan kata-kata kasar si bapak itu membuat saya tidak bisa tidur, sungguh terganggu, padahal saya berharap untuk bisa beristirahat
setelah lepas landas jam 1.30 dini hari dari Jakarta.

Saya menebak, sang bapak yang mengomel itu adalah orang Lebanon. Ia bersama keluarganya sedang dalam perjalanan ke Beirut, menggunakan Gulf Air, maskapai penerbangan milik Bahrain. Waktu itu kami mendarat di bandara internasional Kuala Lumpur, Malaysia. Pesawat yang kami tumpangi seharusnya segera lepas landas setelah menaikkan penumpang di
KL. Namun entah karena masalah apa, pesawat terlambat lepas landas hingga sekitar jam 5 pagi. Yang membuat saya terkejut waktu itu adalah saya tidak menyangka sebelumnya bahwa penumpang kelas bisnis bisa berlaku kasar. Saya pikir penumpang di kelas bisnis adalah orang-orang terdidik yang selalu diam tanpa suara, penyabar dan tidak mengumbar emosi secara sembarangan. Rupanya saya salah dan akhirnya saya sadar telah berpikir secara naif.

Masih tentang pengalaman dengan pesawat, saya pernah telat tiba di bandara Soekarno-Hatta karena terjebak macet luar biasa di kawasan Semanggi pada jam makan siang. Saat itu saya mendapatkan tugas untuk mengunjungi dataroom di Perth, Australia. Saya seharusnya terbang
dengan Singapore Airlines di kelas bisnis, tapi berhubung ditinggal pesawat, saya harus mengganti maskapai, membeli tiket menggunakan uang cash di bandara dan terbang di kelas ekonomi dari Jakarta ke Perth. Masih untung pada hari itu ada penerbangan Qantas yang sebenarnya hampir berangkat, sehingga saya membuat diri sendiri dan petugas loket penjualan tiket Qantas stress berat karena kami semua panik hendak melakukan transaksi jual beli tiket ketika para penumpang lain sudah hampir disuruh naik ke pesawat.

Pengalaman pahit yang paling saya ingat hingga sekarang adalah ketika sebuah kesalahpahaman besar muncul antara saya dan seseorang yang menjadi team leader di sebuah proyek di mana saya diperbantukan. Yang membuat saya sedih adalah kesalahpahaman tersebut muncul karena
kenaifan saya sendiri, yang terlalu proaktif melakukan hal yang melampaui wewenang saya dalam tim dan memunculkan semacam pemikiran bahwa saya telah mencoba mengakui hasil kerja tim (dimana peran saya hanya kecil) menjadi hasil kerja diri sendiri. Kesalahan besar
tersebut, yang secara tidak sadar telah saya lakukan hingga mendapatkan teguran, adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi perkembangan karir saya selanjutnya. Sadar diri akan posisi dalam tim dan menjaga perasaan anggota tim yang lain agar mereka tidak merasa
bahwa kontribusi mereka telah kita serobot (walaupun kita tidak berpikir hendak mengambil hasil kerja orang lain dan secara tidak sengaja telah memberikan kesan negatif) adalah hal penting yang harus selalu diperhatikan demi menjaga suasana yang baik dalam tim dan
menghindarkan diri dari masalah.


PENGALAMAN LUCU
Sejak kecil hingga bekerja, saya tidak pernah berpergian dengan menggunakan pesawat. Perjalanan antar pulau selalu saya lakukan dengan menggunakan kapal laut karena harga tiketnya murah dan waktu perjalanan tidak menjadi masalah besar bagi saya. Pada bulan Maret
tahun 2000, saya diberi tugas menjadi assistant wellsite geologist di lepas pantai Kepulauan Natuna. Saya harus berangkat ke pulau Matak dengan menggunakan F-28 dari bandara Halim Perdanakusuma dan dari Matak perjalanan berlanjut dengan menggunakan helikopter.

Pada tanggal 8 Maret, datang berita duka tentang meledaknya salah satu helikopter yang disewa oleh konsorsium beberapa perusahaan yang beroperasi di lepas pantai Kep. Natuna. Kecelakaan ini menewaskan sang pilot dan menjadi berita besar bagi kami di kantor. Begitu mendengar
berita naas ini, saya langsung berpikir tentang berbagai skenario buruk jika harus pergi ke anjungan pengeboran dengan helikopter sejenis pada tanggal 12 Maret. Sejak tanggal 9 Maret, saya mulai stress berat dan akhirnya demam, karena ketakutan. Bayangkan saja,
seseorang yang tidak bisa berenang, tidak lulus kursus Helicopter Underwater Escape Training (HUET) dan belum pernah naik pesawat hendak pergi ke anjungan pengeboran dengan menggunakan helikopter sejenis dengan yang baru saja meledak. Menakutkan bukan?

Semua khayalan menakutkan yang saya buat akhirnya sirna setelah kami tiba di Matak, karena ada pemberitahuan bahwa perjalanan ke anjungan pengeboran akan dilakukan dengan menggunakan kapal. Semua helikopter yang disewa oleh konsorsium tidak boleh terbang karena ada pemeriksaan dan uji kelayakan terbang setelah kecelakaan pada tanggal 8 Maret.
Syukurlah, dengan demikian saya tidak perlu berada di helikopter dan merasa setiap detik ia bisa meledak. Padahal jika helikopternya meledak atau jatuh, tidak ada yang bisa saya lakukan selain pasrah saja. Keahlian berenang dan sertifikat HUET pun rasanya tidak akan
relevan dalam situasi seperti ini.


SARAN-SARAN
Berdasarkan pengalaman pribadi sejauh ini, ada beberapa hal berkaitan dengan sikap dan cara berpikir, yang menurut hemat saya penting bagi seseorang untuk dapat meraih prestasi, baik di bidang pendidikan maupun pekerjaan. Hal-hal penting tersebut adalah:

  1. Tidak ada manusia yang bodoh, yang ada hanya manusia yang tidak mauberusaha atau cepat menyerah
  2. Mempertahankan motivasi, baik dalam belajar maupun bekerja, agar
    tetap tinggi hingga bisa mencapai target yang sudah ditentukan, adalah
    kunci untuk berhasil
  3. Belajar terus menerus dari berbagai sumber termasuk rekan kerja dan
    mentor/senior adalah kunci untuk mengejar ketertinggalan
  4. Kenali kontribusi diri sendiri dan kontribusi orang lain dalam
    bekerja, berhati-hatilah agar tidak dituduh mengambil hasil kerja atau
    menjiplak hasil karya orang lain
  5. Semua ambisi biasanya akan disertai dengan pengorbanan

No comments:

Post a Comment