Sunday, January 17, 2010

1. Pendahuluan

Dalam blog ini para geologiwan Indonesia membagikan pengalaman hidup dan karirnya.
Ide ini muncul setelah para alumni ITB angkatan pra 1966 berkumpul di Bandung, di rumah Prof. R. P. Koesoemadinata dan Mang Okim memberikan laporannya di IAGI-net. Lihat Bab 2.

Isi tulisan dalam blog ini akan di hubungkan dengan website IAGI, atau jika berkenan akan dipindahkan ke website IAGI. Sementara manager website mengurus hal ini, silahkan mempersiapkan tulisan anda dan kirimkan ke editor blog ini.

Terima kasih atas dorongan dan dukungan dari kawan-kawan di IAGI.

Semoga hal ini bermanfaat bagi geologiwan yang lebih muda maupun sesama geologiwan di Indonesia. Kami percaya dengan berbagi pengalaman, kita bisa saling melengkapi, memberikan semangat dan ide untuk berkembang.

Atas nama panitia penulisan buku / blog "Geologiwan Indonesia Berbagi Pengalaman":

Awang Harun Satyana, Rovicky Dwi Putrohari, Muhammad Syaiful, Ratih Nurruhliati (co-editor) dan Herman Darman (editor)

Friday, December 4, 2009

011. Eddy Subroto

RIWAYAT SINGKAT:
• 1979 Lulus program sarjana di Jurusan Teknik Geologi ITB.
• 1989 Lulus program doktor dari Curtin University of Technology, Perth, Australia Barat.
• 1979-1980 Bekerja sebagai geologiwan di PT Rio Tinto Indonesia dan sempat mengeksplorasi logam dasar (base metal) di daerah Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan DI Aceh.
• 1980-sekarang, bekerja di ITB sebagai dosen di Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (disingkat FITB). Tahun 2009 ini mata kuliah yang saya ampu adalah: Geokimia Petroleum, Geokimia Batuan Induk, Geokimia Biomarker dan beberapa mata kuliah yang tidak langsung berkaitan dengan geologi, yaitu Metodologi Penelitian, dan Manajemen dan Keekonomian Mineral.

PENGALAMAN BERHARGA:
Pengalaman yang paling berharga adalah ketika suatu saat saya harus membuat keputusan besar. Keputusan besar pertama adalah ketika saya harus memilih perguruan tinggi (PT) setelah SMA. Pada tahun 1973, PT masih membuka pendaftaran sendiri-sendiri belum ada gabungan yang namanya SKALU, UMPTN, atau SNMPTN. Saya pilih dua PT besar, yaitu Universitas Airlangga (Unair) di Surabaya, karena dekat kota tempat tinggal saya (Pasuruan) dan ITB (karena keterkenalan namanya). Unair memanggil saya lebih dahulu dan saya diterima di Fakultas Kedokteran. Jadilah saya mahasiswa kedokteran. Setelah kuliah sepuluh hari, datang panggilan dari ITB. Setelah konsultasi dengan penyandang dana (orang tua), maka saya memutuskan untuk cabut dari Unair dan hijrah ke Bandung. Teman saya seangkatan (Agus Handoyo Harsolumakso) mempunyai kasus yang sama dengan saya. Dengan keputusan itu maka akhirnya saya menjadi geologiwan (sekarang menjadi geokimiawan) dan bukan seorang dokter.

Pengalaman berharga kedua adalah ketika saya harus memutuskan tempat bekerja. Karena begitu lulus (atas rekomendasi Prof. Rubini Soeria-Atmadja, pembimbing program S1 saya), saya ditawari oleh PT Rio Tinto Indonesia (RTI) untuk bergabung dengan mereka, maka bekerjalah saya untuk RTI. Menjelang setahun di RTI, saya ditawari untuk menjadi dosen sebagai yunior dari Dr. Ong Han Ling. Di sini dilema muncul. Setelah berkonsultasi dengan keluarga dan memohon bimbingan dari Yang Maha Esa, maka saya memutuskan masuk lagi ke ITB sebagai pengajar. Pada tahun-tahun pertama tentunya saya harus prihatin, karena gaji dosen yunior yang pegawai negeri adalah seperlima dari gaji geologiwan yunior di RTI. Akan tetapi, akhirnya kepuasan saya tercapai dengan dapatnya kesempatan saya untuk sekolah sampai ke program doktor dibiayai negara.

Pengalaman berharga ketiga adalah kesempatan bergaul dengan orang Indonesia yang pendatang maupun yang sudah menjadi warga negara Australia (umumnya karena pernikahan), ketika saya sekolah di sana. Oleh karena itu, pada tahun pertama di Australia saya sudah terpilih menjadi Sekretaris Rukmariwa (Rukun Masyarakat Indonesia di Western Australia). Bahkan, kemudian, selama di Perth saya sempat menjadi Ketua Rukmariwa dan juga menjadi Sekretaris dan Ketua HPPIA (Himpunan Pengajar dan Peneliti Indonesia di Australia).

Jadi, pengalaman berharga yang ingin saya bagikan di sini adalah bagaimana seseorang berani mengambil keputusan dengan pertimbangan yang masak dan hal yang lainnya adalah keluwesan dalam pergaulan. Sebagai seorang geologiwan kita harus pandai bergaul dengan berbagai golongan masyarakat, karena pekerjaan kita luas cakrawalanya, dari perkotaan sampai ke lapangan terpencil.

PENGALAMAN YANG KURANG MENYENANGKAN:
Menulis adalah sesuatu yang wajib hukumnya, saya rasa, bagi cendekia (scholar). Untuk dapat menulis dengan baik, tentunya penulis harus mempunyai dasar penguasaan bahasa yang baik, apakah itu bahasa Indonesia atau bahasa asing dan banyak berlatih. Kemampuan mahasiswa menulis dalam bahasa Indonesia ternyata tidak terlalu menggembirakan. Karena mereka lahir di Indonesia dan semenjak kecil sudah mengenal bahasa Indonesia, maka mereka menganggap bahwa yang mereka ketahui itu sudah benar, sehingga ketika mereka menulis (makalah atau tugas kuliah), mereka mempergunakan ejaan dan kosakata yang mereka miliki tanpa pernah memeriksa kebakuan kata tersebut, karena umumnya mahasiswa tidak memiliki kamus bahasa Indonesia.

Kemudian, tidak sedikit mahasiswa yang tidak tahu etika berbahasa. Ketika presentasi, bahkan ketika sidang sarjana/tesis pun banyak di antara mereka yang menggunakan bahasa dialek, bukannya menggunakan bahasa resmi. Dengan demikian, semakin berat tugas dosen dalam memeriksa skripsi, tesis, maupun disertasi, karena selain memperhatikan isi ilmiahnya masih harus juga memeriksa kebakuan bahasanya. Kesalahan berbahasa adalah biasa, tetapi ketidak-acuhan terhadap bahasa sangat merisaukan!

CERITA LUCU:
Pengalaman lapangan saya tidak terlalu banyak, tetapi lapangan sering memberikan kenangan lucu. Seorang geologiwan sering dianggap seorang “insinyur” yang serba-bisa, sehingga pernah saya diminta memperbaiki mesin motor atau generator yang rusak. Yang lebih aneh, saya pernah diajak warga dusun ke rumahnya dan diminta menyembuhkan anaknya yang sakit. Dengan bekal sedikit pengalaman (kan kita pernah sakit?) dan bekal obat yang saya bawa ke lapangan maka jadilah saya seorang dokter dadakan.

Bekal keahlian (misalnya olah raga) sering menjadikan pelipur lara di lapangan. Kebetulan saya senang berbagai macam olah raga, sehingga sekarang saya dapat bercerita bahwa saya memiliki pengalaman bermain bulutangkis di pelosok Bogor-Sukabumi di kaki Gunung Salak, juga di Pertambangan Emas Cikotok di Banten Selatan. Saya juga pernah bermain bola voli dan sepak bola di beberapa desa kecil di pedalaman Kalimantan Timur.

SARAN:
Hidup adalah belajar dan pepatah mengatakan bahwa “belajar tidak mengenal tua.” Saya terkesan dengan minat belajar mahasiswa senior tetapi agak kurang terkesan melihat minat belajar mahasiswa yunior. Mungkin karena yang yunior masih belum yakin, apakah mereka akan dapat “hidup” sebagai geologiwan. Tugas kita sebagai yang lebih senior untuk memberikan motivasi kepada mereka yang lebih muda. Karena itu saya sangat senang kalau ada kolega dari industri datang ke kampus berbagi pengalaman yang akan dapat menjadi motivasi bagi yang yunior.

Friday, November 13, 2009

10. Rovicky Dwi Putrohari


RIWAYAT SINGKAT:
- 1987 - Lulus Jur Geologi, Fak Teknik UGM, Yogyakarta
- 1998 - Lulus MSc Geophysics, Fak MIPA, Universitas Indonesia

- 1988 - 1990 Hudbay Oil Malacca Strait Ltd (Jakarta Indonesia)
- 1990 - 1995 Lasmo Indonesia (Jakarta, Indonesia)
- 1995 - 2001 Kondur Petroleum SA (Jakarta, Indonesia)
- 2001 - 2002 Shell (Brunei Shell Petroleum) (Seria, Brunei)
- 2002 - 2003 Total Indonesia (Balikpapan, Indonesia)
- 2003 - 2004 Murphy Oil Malaysia (Kuala Lumpur, Malaysia)
- 2004 - 2009 HESS Oil and Gas Ltd (Kuala Lumpur Malaysia)

PENGALAMAN BERHARGA:
Bagi saya, tidak ada pengalaman yang tidak berharga, termasuk pengalaman pahit. Yang terpenting bagaimana saya menghargai pengalaman itu sebagai bagian dari proses pembelajaran, dan kemudian berbagi pengalaman dengan siapa saja sebagai bagian dari belajar-mengajar.

Pengalaman berharga yang saya alami adalah pengalam ketika keluar dari "ruang santai" atau sering disebut "Comfort Zone". Yaitu keluar dari tempat yang sudah enak dan mencari tempat lain yang lebih menantang.

Saat itu saya bekerja di perusahaan yg sudah cukup mapan di Jakarta sebagai Manajer Geologi. Namun justru rasa keterpanggilan saya bukan pada manajerial. Banyak hal yang menjadi pertimbangan (pssst salah satunya ya remunerasi atau gaji ... psst). Saat keluar dari comfort zone ini memberikan pelajaran paling berharga bahwa manusia itu memerlukan tantangan untuk menambah pengalamannya.

Bagi saya bila seseorang sudah bekerja 7 tahun, setiap tahun menyeleseikan satu peta. Nah orang ini menurut saya adalah yang berpengalaman setahun diulang 7 kali! Dia bukan orang yang berpengalaman 7 tahun.

Pengalaman dalam berorganisasi cukup banyak yang memberikan gambaran bahwa ternyata yang paling sulit dalam berorganisasi itu "regenerasi" atau kesinambungan program kerja, kesinambungan organisasi. Sulitnya melanjutkan program yang sudah disusun dengan bagus dan telah memakan waktu, tenaga dan biaya ini seringkali dikarenakan keengganan untuk memberikan tongkat kepada penerusnya.

Oleh sebab itu bagi saya memberikan atau lebih tepatnya berbagi ilmu dan berbagi pengalaman dengan generasi muda merupakan hal terpenting untuk berorganisasi di Indonesia.

PENGALAMAN YANG KURANG MENYENANGKAN
Sebagai bagian dari proses pembelajaran, terutama belajar ilmu hidup, tentu saja pengalaman tidak enak selalu saja ada. Walaupun hal ini dianggap sebagai sebuah kenangan yang tidak boleh dilupakan tetapi mengingat-ngingat hal ini hanya sebagai pembelajaran.


CERITA-CERITA LUCU

Cerita lucu ... wah ... selamanya dunia ini saya anggap sebuah hiburan yang penuh humor dengan kelucuannya. Terutama ketika saya tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan mudah. Misalnya kenapa hampir semua binatang berjalan maju kedepan ? Saya tidak mampu menjawabnya dengan mudah. Barangkali hanya karena terlanjur di depan mata itu disebut "depan".

Yang sering terjadi ketika orang bertemu saya adalah perkataan yang sama atau mirip ..."Oooo ini yang namanya Pakdhe ?". Mungkin lebih banyak orang mengenal saya lewat tulisan ketimbang mengenal wajah. Mengenal Pakdhe ketimbang Rovicky, dan mengenal saya sebagai pendongeng geologi ketimbang sebagai ahli perminyakan.

SARAN-SARAN

Sebagai seorang geologiwan profesional, banyak hal yang berhubungan dengan kode etik keprofesian, masing-masing organisasi profesi memiliki kode etiknya yang didefinisikan sendiri, namun saya memiliki etika profesi pribadi yang berupa tiga hal. Yaitu : Tidak memaksa, Tidak mengiba, dan Tidak berjanji.

1. Tidak memaksa
Seorang yang berjiwa atau bermoral profesional tetunya akan memiliki keahlian teknis yang khusus yang mendukung keprofesionalannya. Dengan demikian dia akan mempunyai kekuatan (`power’). Sehingga dengan ‘power’ yang dia miliki, dia dapat melakukan tindakan untuk menekan pihak lain. Misal pekerja menekan manajernya untuk meminta kenaikan gaji, karena tahu dialah satu-satunya staf ahli di perusahaan itu. Kalau tidak diluluskan mengancam akan keluar dari perusahaan. Tindakan pemaksaan ini menurut hemat saya adalah tindakan yang tidak memeliki moral profesional. Hal yang sama seandainya seorang manajer yang melakukan penekanan kepada anak buahnya untuk menerima upah berapapun yang diberikan, karena diketahui betapa sulitnya mencari kerja saat ini.
Dalam interaksi pekerja dan yang mempekerjakan (employee – employer) selalu muncul kesepakan sebelum dimulainya pekerjaan. Seandainya ada salah satu diantara kedua pihak merasa ada yang merasa terpaksa melakukan atau mengikuti aturan kerja maka kemungkinan besar ada sesuatu yang tidak profesional dalam menangani perjanjian kerja ini.
Akan sangat bagus sebelum dimulainya pekerjaan manajer menanyakan bagaimana kesanggupan anak buahnya. Demikian juga anak buah menanyakan apakah hasilnya dapat diterima oleh atasannya.

2. Tidak mengiba
Pada saat-saat tertentu kesulitan atau hambatan muncul baik dipihak pekerja maupun perusahaan. Krisis ekonomi saat lalu (soalnya saya yakin saat ini sudah mulai tahap penyembuhan) banyak mengakibatkan kesulitan dikedua pihak. Pihak perusahaan akan sangat kesulitan mengelola perusahaan, dilain pihak pekerja atau karyawan juga mengalami hal yang sama dalam kehidupan sehari-harinya. Sering kita dengar ada perusahaan yang yang dengan mengiba datang ke Depnaker utk melakukan PHK massal, untuk dinyatakan bangkrut/pailit. Atau juga seorang karyawan yang datang ke manajernya memohon untuk tidak di PHK karena anaknya masih kecil. Ada saat seperti ini, moral keprofesionalan pekerja dan penilik perusahaan (biasanya diwakili manajernya) mengalami ujian dalam menghadapi tantangan hidup.
Tentunya tidak bisa hanya dengan mengiba untuk menghadapi kesulitan ini, dan tentunya tindakan mengiba ini bukan moral yang professional.

3. Tidak berjanji
Satu sikap moral professional dalam menghadapi apapun yang telah, sedang dan bakal terjadi juga hal yang harus diperhatikan. Sikap ikhlas dalam menghadapi keberhasilan maupun kegagalan merupakan sikap professional yang ketiga. Berjanji merupakan tindakan yang mungkin sekali menjadikan kita melanggar dua sikap moral sebelumnya yang disebutan diatas. Karena kegagalan maka akan muncul pemaksaan atau mengiba dari salah satu pihak, atau bahkan kedua pihak. Sehingga kesiapan menerima apapun yang bakan terjadi merupakan sikap moral profesi yang dibutuhkan.
Program kerja saat ini banyak sekali mempunyai tuntutan, target produksi, target penjualan, serta target target perusahaan lainnya hendaknya bukan merupakan janji yang harus dipenuhi melainkan merupakan sebagai pemicu semata, sebagai ‘alat ukur performance’ yang bukan merupakan harga mati baik untuk kedua pihak.
Nah dari sikap moral professional diatas, kita dapat melihat sejauh mana keprofesionalan kita, perusahaan, manajer, pemegang pimpinan organisasi serta anggota organisasi profesi maupun anggota partai sekalipun dalam bersikap profesional.

Tuesday, October 27, 2009

9. Parvita Siregar

RIWAYAT SINGKAT

- University of South Carolina, Columbia (1993-1995); Department of Marine and Geological Sciences
- Institut Teknologi Bandung (1986-1991); Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral

- Salamander Energy Indonesia (2006-sekarang): Chief Geologist
- Vico Indonesia (2006): Team leader, Infrastructure-led Exploration
- Eni Indonesia (2003-2006): Senior Geologist
- Conoco Indonesia (1997-2003): Senior Geologist
- Union Texas (1992-1993): Geologist



PENGALAMAN BERHARGA
Geologi adalah ilmu yang mempelajari fenomena alam. Saya melihat bahwa apa yang terjadi dengan alam tidak habis-habisnya bisa dipelajari. Sewaktu masih ‘lebih’ muda (sebab sekarangpun saya juga masih muda, bukan?), saya melihat geologi identik dengan pekerjaan di alam bebas, menjelajah, dan mengunjungi tempat-tempat yang jarang dikunjungi orang-orang biasa. Di usia menginjak empat puluhan, saya lebih melihatnya sebagai ilmu yang mempelajari ciptaan-Nya dan menjadi saksi kebesaran Tuhan dan alam semesta yang sangat dinamik (semakin berumur semakin spiritual, bukan?). Sama seperti ilmu-ilmu alam lainnya, semakin kita mempelajarinya, semakin kita tahu menempatkan diri kita sebagai anggota semesta alam.


Keterangan foto: Parvita, kedua dari kanan di..



Boleh saja tersenyum mendengar apa yang saya paling sukai selama bergelut dengan ilmu geologi: melihat batuan. Hampir sepanjang karir saya, saya menjadi interpreter dan semakin lama semakin jarang mendapatkan kesempatan melihat batuan. Apa yang saya lihat sehari-hari adalah rekaman batuan-batuan berupa data-data seismik dan log, maupun tanda-tanda yang diberikan oleh fosil-fosil mikro, yang, lagi-lagi berupa data. Tentunya saya suka pergi ke lapangan untuk melihat singkapan. Saya paling suka bila mendapat proyek untuk mengumpulkan data-data yang ada dan menyatukannya menjadi sebuah hasil rekonstruksi geologi. Saat yang paling menyenangkan lainnya adalah ketika pengeboran dan logging. Saat-saat menanti data datang dari lapangan untuk membuktikan hipotesa adalah saat-saat dimana saya mengalami ‘adrenalin rush’.
Keterangan foto: Parvita, kedua dari kiri di...



Sampai sekarang, jika saya pergi jalan-jalan, terutama bila pergi menyelam ke tempat-tempat terpencil, saya suka mengamati singkapan yang ada, atau bila sedang menyelam, saya suka mengamati apa yang ‘tumbuh’ di tempat-tempat dengan kedalaman tertentu. Saya merasa dapat menikmati hobby saya dengan mengkorelasikan apa yang saya lihat dengan apa yang saya kerjakan sehari-hari.

PENGALAMAN YANG KURANG MENYENANGKAN
Setiap pekerjaan tentunya ada bagian yang tidak terlalu disukai. Saya tidak terlalu suka dengan birokrasi dan paperworks. Apalagi kalau mengerjakan anggaran (budget). Pusing rasanya melihat angka-angka. Lebih baik beri saya pinsil warna, peta, log atau seismic daripada saya disuruh mengisi berkas-berkas yang menjadi permintaan dari BPMIGAS atau MIGAS. Tetapi saya juga sadar bahwa itu adalah bagian dari pekerjaan, semakin senior kita lebih dituntut untuk melihat segala sesuatu dengan lebih menyeluruh. Apalagi saya bekerja di bisnis perminyakan, bukan di institusi pengetahuan.

SARAN-SARAN
Entah betul entah tidak, saya merasa generasi sekarang tidak lebih kreatif dari generasi saya. Saya juga merasa bahwa generasi saya tidak lebih kreatif dari generasi sebelum saya. Sewaktu saya dulu memulai karir, segala sesuatu dilakukan secara manual. Pemetaan dilakukan dengan tangan sambil memikirkan kemana menarik garis selanjutnya. Ketika berinteraksi dengan geologiwan maupun geophysicist yang lebih junior dari saya, saya melihat bahwa mereka menelan hasil olahan computer seutuhnya (take whatever comes out from the computer as granted). Mereka seolah lupa bahwa computer is just a computer. Kontur harus diedit sehingga masuk akal secara geologi. Amplitude anomaly hanya menunjukkan adanya perbedaan impedance. Kadang-kadang saya berpikir, apakah mereka ini operator software atau geoscientist, ya? Saya termasuk orang yang kritis mempertanyakan apa yang dimuntahkan oleh sebuah komputer. Komputer adalah alat untuk mempermudah pekerjaan saja, bukan jawaban akhir. Geologi adalah alam yang tidak dapat hanya dijawab dengan angka-angka dan rumus. Geologiwan yang baik bukan yang dapat mengoperasikan perangkat lunak, tetapi yang dapat menjelaskan dan merekonstruksi geologi secara riil dari data-data yang dikumpulkan. The best geologists are those with good imagination. Geologist yang terbaik adalah mereka dengan imajinasi yang baik.

Friday, July 31, 2009

8. Bona Situmorang

Dr. Bona Situmorang lahir di Sumatra Utara dan meninggal di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 2007. Biografi beliau disusun berdasarkan beberapa sumber di IAGI-net dan Royal Holloway, University of London.

RIWAYAT SINGKAT
1968 - Lulus dari Jurusan Geologi Universitas Gajah Mada - S1
1968-1978 - kerja di LIPI
1978-1982 - belajar di Chelsea College, University of London, lulus PhD / S3
1982-1991 - kerja di Lemigas sebagai kepala peneliti
1983 menjadi dosen senior Universitas Trisakti
1991-1995 - kerja di Lemigas sebagai kepada bagian penelitian dan pengembangan
1995-1998 - menjabat direktur teknik kemudian direktur eksekutif "Australian-Indonesian Joint Authority of Timor Gap"
1997 - menerima Satya Lencana Karya Satya dari pemerintah Indonesia.
1998 - menjadi peneliti utama, Universitas Trisakti
2001 - menjabat wakil dekan Fakultas Teknik Mineral, Universitas Trisakti

PENGALAMAN BERHARGA
Karya-karya almarhum seputar Selat Makassar yang dijadikan disertasi almarhum pada tahun 1982 merupakan pemikiran yang 'mendahului zaman' yang pada tahun-tahun terakhir ini terbukti benar berdasarkan data survey dan pemikiran-pemikiran terbaru (Awang Satyana - IAGI-net).

Saya masih terngiang pesan beliau ketika IAGI mengadakan seminar khusus landas kontinen serta teritorial. Beliau sangat konsen tentang pentingnya pengetahuan kita landas kontinen Indonesia, karena itu salah satu data geopolitik terpenting untuk mempersatukan INDONESIA
yang memiliki kondisi geologis dan geografis berbeda dengan Negara manapun juga (Rovicky Dwi Putrohari – IAGI-net).

Bona was a research student at Chelsea College between 1978 and 1982 when I supervised his study of the "Formation and Evolution of the Makassar Basin", based on oil industry seismic surveys that, by today's standards, were limited in resolution and difficult to interpret (using coloured pencils on paper sections, of course). Bona produced a remarkably good interpretation of the evolution of the Makassar Basin and was able to estimate the amount of extension and thermal subsidence by using Dan McKenziie's now classic paper just published in EPSL (1978) on "Some remarks on the development of sedimentary basins". At that time the paper was virtually unknown, so I took Bona across to Cambridge to talk with Dan, who was delighted to find an example where his theory worked. Although later examples, such as the North Sea basin, became well known and Dan's work became widely used, Bona's was the first (Derek Blundell – Royal Holloway, University of London).

CERITA-CERITA LUCU
Sekitar tahun 1970, ketika mang Okim masih bekerja di Direktorat Geologi, ada kursus Remote Sensing yang diselenggarakan oleh US-AID / USGS. Pak Bona dan mang Okim ikut serta dalam kursus ini.
Dalam perjalanan dari Bandung ke Cilacap untuk praktek lapangan, rombongan bermalam di sebuah hotel kecil di Kota Kadipaten. Malam harinya usai makan malam, beberapa anggota rombongan main gapleh, di antaranya Pak Djuri, Pak Kastowo, Pak Atiek, Pak Eddy Kasimir, Pak Bona Situmorang, mang Okim, dll.
Seperti biasanya geologist, heureuy atau guyonan terlontar di sela-sela bunyi bantingan kartu gapleh/ domino. Di antara guyonon yang sering terlontar adalah panggilan untuk Pak Bona Situmorang yang dirubah menjadi Bona Situaksan (sisa danau Bandung yang sudah kering dan beralih fungsi jadi perumahan rawan banjir). Nama Batak lain yang sering disebut antara lain Panjaitan yang dirubah menjadi Pangaputan (di Sunda-kan).
Rupanya di meja sebelah kami main gapleh, ada seorang Batak yang tiba-tiba marah dan merasa terhina dengan panggilan Situaksan dan Pangaputan tersebut (mungkin marganya juga Situmorang atau Panjaitan). Orang tersebut ternyata seorang perwira dari Kodim Kadipaten. Demikian marahnya perwira tersebut sampai mengeluarkan pistol yang siap ditembakkan. Sementara keributan berlangsung dan Pak Bona berusaha menenangkan perwira tersebut, mang Okim dan beberapa rekan menyelinap pergi dan melapor ke Kantor Kodim Kadipaten untuk melaporkan kejadian. (sumber: Sudjatmiko – IAGI-net).

Saturday, July 18, 2009

7. Soeroso Notohadipranoto

Prof. Soeroso Notohadiprawiro, adalah pendiri jurusan Teknik Geologi Universitas Gajah Mada. Beliau adalah professor otodidak karena hanya lulusan STM tapi menjadi guru besar yang dihargai secara international serta mendapat penghargaan dari "International Cooperation Administration, karena prestasinya di bidang pendidikan teknik. Pak Roso atau Mbah Roso, panggilan akrabnya wafat pada tanggal 7 November 1977. Nama Prof Soeroso sekarang dipakai sebagai nama Stasiun Lapangan Geologi di Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Stasiun Lapangan ini menjadi tempat kuliah lapangan baik dari Jurusan Geologi, dan fakultas lain dari Univ Gadjah Mada, juga dari Universitas lain. Lapangan ini dikelola oleh Jurusan Teknik Geologi UGM.

Disarikan oleh Rovicky Dwiputrohari dan Herman Darman berdasarkan tulisan yang diterbitkan di majalah Nebula 4, majalah Gelora Mahasiswa, no.8, thn 3, edisi Desember 1978. dan tulisan Wartono Rahardjo di majalah Nebula, 1989.


RIWAYAT SINGKAT
1904 Lahir pada tanggal 24 April
1922 Pelaksana bangunan sipil “Sitzen & Lozauda” Yogyakarta
1925-1928? Shell Netherland - Den Haag
1929 Menikah denan R. Ay. Sri Sutengsun
1943 Guru Sekolah Teknik Menengah (STM) Jakarta
1958-1962 Sekretaris Fakultas Teknik Geologi UGM
1959-1972 Ketua Jurusan Teknik Geologi UGM
1960 Guru besar Teknik Geologi UGM
1970? Menerima bintang Satya Lencana Pengabdian
1971? Pensiun

PENGALAMAN BERHARGA
Soeroso merupakan satu-satunya orang pribumi dari 80 pemuda yang diterima. mengikuti pendidikan pegawai perminyakan di Den Haag, sebelum diangkat jadi ajun geoloog. Kerja pertamanya di daerah Rantau, Aceh, mengawali prestasi-prestasi Soeroso sebagai ahli eksplorasi geologi dan minyak bumi. Dia berhasil "menjatuhkan" 17 orang penyelidik pendahulunya - termasuk beberapa sarjana, yang telah menyatakan Rantau sebagai daerah ‘non minyak’, tetapi ternyata merupakan sumber minyak yang menghasilkan jutaan gulden bagi BPM dan Shell. Kemudian berturut-turut dijelajahi hampir seluruh Sumatera untuk mencari ladang minyak baru atau eksplorasi ilmiah.

PENGALAMAN YANG KURANG MENYENANGKAN
Jaman perang memang mampu menyulam pengalaman orang dengan aneka cara hidup. Tatkala Jepang masuk, Soeroso yang masih punya gelar bangsawan : Raden, terpaksa sembunyi di Gunung Sawal, Jawa Barat, takut jika dipaksa jadi romusha oleh ‘saudara tua’. Hampir dua tahun saya jadi petani karet dan kelapa serta mendirikan perusahaan dagang "Banyu Asih", sebelum saya diminta menjadi Wakil Direktur STM Jakarta oleh kerabat saya Ki Hadjar Dewantara dan mulai saat itu saya melakukan profesi sebagai pendidik.

"Di Pangkalan Susu, Teluk Aru, ladang minyak yang saya temukan ketika di bor menyembur deras dengan debit 1 juta ton sehari telah menggenangi laut dan terbakar. Apinya menjulang dan kelihatan dari jarak 90 km di kota Medan, sebulan baru dapat dipadamkan dengan bantuan tenaga dari Amerika. Peristiwa itu membeawa beberapa korban jiwa manusia ...", nampak suara Profesor sendu menceritakan kisahnya kepada GEMA.

PENGALAMAN LUCU
Sudah menjadi kebiasaan pada waktu itu bahwa bagi para geolog lapangan bahwa sungai merupakan sahabat yang baik. Lintasan pemetaan umumnya sangat efisien kalau dilakukan dengan menyusuri sungai. Demikian pula air untuk mandi dan mencucipun diambil dari sungai. Tak ketinggalan tentunya buang airpun di sungai. Nah pada suatu pagi, geolog muda Soeroso memisahkan diri dari kru pemetaan yang dipimpinnya untuk nongkrong buang air di tepi sungai. Benak beliau masih sarat terisi oleh problematik yang belum terselesaikan . Ketika buang air tersebut, beliau keras berfikir, sambil sekali-sekali memandang ke arah sungai untuk melihat barangkali ada buaya ganas yang sedang berjemur. Pada waktu mata beliau mengamati sungai, pandangannya tertumbuk pada sesuatu yang mencuat dari dalam air sungai, yang kebetulan tidak seberapa keruh. Semula beliau menganggap itu sebagai kayu hanyut yang mencuat dari dalam sungai saja. Namun naluri geologi beliau mengatakan tidak, barangkali suatu singkapan perlapisan batuan.Secara bergegas beliau membersihkan diri lalu menghampiri tempat yang mencurikgakan tersebut. Apa yang ditemui beliau? Tak lain adalah perlapisan kunci yang selama itu dicari-carinya. Dengan penuh kegirangan diukur dan dicatatnya singkapan yang sangat berharga ini. Selanjutnya rekonstruksi struktur dilakukan kembali dan akhirnya persoalan struktur di daerah tersebut dapat dipecahkan. Selesainya persoalan struktur itu kemudian secara langsung diikuti dengan ditemukannya ladang minyak di Sumatera Selatan.

SARAN-SARAN
“Anakmuda harus punya keberanian bereksperimen, ketangguhan ‘ousdour’ atau ketahanan diri dalam menghadapi cobaan hidup. Percaya kepada kemampuan diri dan jangan hanya menggantungkan input dari pendidikan formil, tapi belajarlah otodidak”, demikian petuah Profesor Soeroso Notohadiprawiro, 72 tahun saat itu.

6. Wikarno

RIWAYAT SINGKAT

a. Pengalaman Kerja di Instansi Pemerintah
1961 masuk Jawatan Geologi, kemudian 1969 diubah menjadi Direktorat Geologi (DG). DG dikembangkan menjadi 4 unit : Dit. Sumberdaya Mineral, Dit. Geologi Tata Lingkungan,Dit Vulkanologi dan Puslitbang Geologi dimana penulis bekerja sampai pensiun tahun l991
Sejak 1961 bekerja di Seksi Petrologi dan Mineralogi sebagai petrolog sambil menunggu hasil penilaian atas Laporan Pemetaan Doktoral dan 3 buah skripsi sebagai syarat untuk menyelesaikan studi di Jurusan Geologi ITB. Diwisuda Maret l963.

Kegiatan yang pernah dilakukan
1963-1969 bekerja sebagai petrolog di Si. Petrologi dan Mineralogi, Jawatan Geologi
1969-1974 sebagai Kepala Seksi Petrologi dan Mineralogi DG
1974-l980 sebagai Kepala Bidang Analisa Laboratorium DG
1980-1990 sebagai Kepala Bidang Geologi Puslitbang Geologi
1990-1991 sebagai Kepala Bidang Publikasi dan Dokumentasi Puslitbang Geologi
1974-1990 merangkap sebagai Pemimpin Proyek Penelitian dan Pengembangan Kegiatan Geologi
b. Diperbantukan pada kegiatan eksplorasi bahan tambang kerja sama antara DG dengan pihak ke tiga
1963-1964 terlibat dalam Proyek Besi Baja Kalimantan untuk eksplorasi pasir di daerah Balikpapan Kaltim dan eksplorasi bijih besi di daerah Tanalang Kalsel.
1965 Peninjauan Umum Endapan Bijih Besi di daerah Sukadana Lampung.
1969-1970 diperbantukan pada P.T. INCO Indonesia untuk eksplorasi laterit nikel di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Daerah kegiatan di La Pao-Pao dan sekitarnya. Daerah La Sua-Sua dan sekitarnya, serta membuat lintasan-lintasan di sekitar danau Matano, Mahalona dan Towuti; dilanjutkan disekitar Teluk Kolono dan sekitar aliran Sungai Konaweha Sulawesi Tenggara.
1980-1990 mengelola Kerja sama Penyelidikan Geologi Kuarter Daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan ahli Jepang yang berasal dari berbagai universitas di Jepang Tokyo University, Kyoto University , Osaka University dan Osaka National Museum disponsori oleh Japan International Cooperation Agency dan Pemerintah Indonesia. Dalam kerja sama ini Pemerintah Jepang memberikan hibah membangun Gedung Laboratorium Geologi Kuarter di Bandung
Latihan Kerja,Studi Banding dan Seminar di luar negeri dan dalam negeri
1966-1967 mengikuti latihan kerja di bidang petrologi dan mineralogy di Bundesanstalt Fur Bodenforshung di Hannover Jerman Barat termasuk latihan di bidang mineragrafi di Klaustal Universiteit.
1973 Latihan Kerja di bidang Geokronologi Metode Jejak Belah di US Geological Survey Colorado Amarika Serikat dan mengikuti Seminar Komunikasi di Michigan University.
1977 peninjauan ke berbagai universitas dan museum di Jepang
1975 mengikuti Seminar Geokronologi di Bangkok Thailand
1982 melakukan studi banding kegiatan penelitian di Korean Institute of Energy and Resources, Soul, Korea Selatan.
1984 mengikuti Seminar Tin Deposits di Nanning City, China
1988 meninjau pabrik pembuat alat pengasahan batuan Merk Logitech di Glasgow Inggris, mengikuti Seminar CCOP di Bandung, menyelenggarakan Seminar Geologi Kuarter dengan tema : bencana alam. Lingkungan hidup, “data base” dan tema lainnya, kerja sama Puslitbang Geologi dengan JICA

PENGALAMAN BERHARGA

a. Pada waktu melaksanakan kegiatan eksplorasi besi di daerah Tanalang Kalsel kegiatan perlu di kawal oleh satu peleton Brimob, karena situasi saat itu masih dianggap belum aman, karena gerombolan anak buah Ibnu Hajar di Kalimantan masih berkeliaran di hutan. Selama eksplorasi masih terdengar sesekali suara letusan senjata api , tapi kami tidaktahu pasti apakah tembakan dimaksudkan untuk mengusir gerombolan atau menembak babi hutan atau tujuan lainnya karena Kamp mereka terletak agak berjauhan; peristiwa ini terjadi pada tahun l963.

b. Suatu saat saya membuat lintasan didaerah Penajam ,saya melakukannya seorang diri karena teman lainnya sedang mengawasi pembuatan sumur uji. Pada lintasan itu saya harus menembus daerah rawa yang masih perawan dan jarang dilewati oleh penduduk setempat. Setelah lintasan dianggap cukup, saya memutuskan kembali dengan jalan melingkar. Setelah jalan cukup lama, saya kembali ke jalan yang telah saya lalui dan itu dilakukan beberapa kali. Pada waktu melakukan orientasi, saya tidak dapat menentukan dimana posisi saya berada karena situasi sekelilingnya semua serupa berupa daerah rawa yang datar ditumbuhi tetumbuhan yang lebat dan tinggi. Kemudian saya melihat kompas dan menentukan arah perjalanan untuk berusaha keluar dari daerah rawa. Setelah berjalan cukup lama dan mulai merasa kesal dan mulai putus asa, Alhamdulillaah Allah memberi petunjuk karena dari kejauhan terdengar suara klakson mobil. Dengan mengikuti dari mana arah suara tersebut, saya menembus pepohonan rawa dengan susah payah, akhirnya saya dapat keluar dari daerah rawa.

c. Pada tahun 1969 masa awal kegiatan eksplorasi nikel laterit di Sulawesi Selatan,saat itu untuk mencapai daerah Malili sarana transportasi reguler seperti sekarang belum ada ; waktu itu P.T. INCO meminta bantuan AURI untuk mengangkut personel dan barang keperluan eksplorasi dengan menggunakan pesawat Albatros yang dimiliki AURI yang dapat mendarat di permukaan air. Pada awal keterlibatan saya di P.T.INCO, saya termasuk salah satu yang akan ikut menuju Malili dengan menumpang pesawat terbang Albatros. Pada hari keberangkatan setelah semua persiapan selesai baik pesawat, barang-barang maupun penumpang, pesawatpun mulai bergerak menuju tempat untuk tinggal landas di Lapangan Terbang Makasar sekarang Hasanudin dan terbang menuju Malili. Setelah terbang beberapa waktu lamanya, pesawat terasa mengurangi ketinggiannya dan beberapa waktu kemudian mendarat di lapangan terbang bukan di atas air. Setelah kami keluar sang pilot memberi tahukan bahwa pesawat harus kembali ke Hasanudin karena mangalami gangguan mesin. Kami beruntung karena gangguan mesin tidak sampai mengganggu terbangnya pesawat. Awak pesawat menjanjikan akan membawa kami ke tempat tujuan esok harinya. Esoknya kami kembali ke Hasanudin dan memasuki pesawat; setelah semua persiapan selesai, pesawat bergerak menuju landasan pacu dan mengumpulkan keseluruhan tenaga dan kemampuannya yang terdengar dari deru mesin pesawat yang makin menguat, kemudian sedikit melemah, kondisi ini dilakukannya beberapa kali. Pada saat deru mesin pesawat dalam keadaan tinggi, pesawat mulai bergerak makin lama makin cepat dan akhirnya lepas landas dan sang burung besipun terbang membelah angkasa.
Setelah sekian lama terbang sang burung besipun terasa mengurangi ketinggiannya dan berkeliling mencari tempat pendaratan yang baik. Setelah menemukan tempat yang cocok, pilotpun mengurangi kecepatan dan menurunkan pesawatnya dan akhirnya menyentuh permukaan air di perairan Teluk Malili dan berhenti dan pesawatpun bergoyang oleh ayunan gelombang laut. Para penumpang bergegas keluar dan naik ke atas perahu yang akan membawa kami ke pantai dan sampailah kami dengan selamat di “Base Camp” P.T. INCO Malili.
d. Kalau dalam kegiatan eksplorasi nikel laterit sebelumnya saya ditugaskan untuk melalkukan eksplorasi dengan kamp yang tetap di La Pao-Pao dan La Sua-Sua untuk membuat sumur-sumur uji dan pemboran-pemboran dangkal dengan bor Winky, maka dalam periode ketiga saya ditugasi untuk membuat lintasan-lintasan dan mengambil contoh secara acak. Lintasan-lintasan dibuat di sekitar danau Matano, Mahalona dan Towuti dan diteruskan ke daerah Teluk Kolono dan daerah Wawotobi di Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini dilakukan karena P.T. INCO ingin mengetahui secara umum kira-kira daerah mana yang perlu dipertahankan untuk penyelidikan selanjutnya. Awal kegiatan dimulai dari Malili menuju daerah D. Matano. Sebagai alat transportasi digunakan kerbau atau istilah lokalnya “pateke” Setelah berhasil membuat beberapa lintasan di sekitar D. Matano saya bergerak ke selatan menuju D. Mahalona,termasuk daerah Nuha yang terletak di utara D. Mahalona. Di pantai danau saya melihat tumbuhan anggrek yang sedang bebunga yang indah; ini membuktikan bahwa daerah itu belum banyak dikunjungi atau dilewati orang. Setelah daerah sekitar D. Mahalona selesai, lintasan diteruskan ke pantai utara D. Towuti. Dalam melakukan kegiatan ini umumnya saya lakukan seorang diri, hanya sewaktu-waktu saja ditemani oleh penduduk setempat; untuk komunikasi dengan Base Camp Malili saya dilengkapi dengan radio komunikasi SSB. Setelah lintasan di utara D.Towuti cukup, saya harus pindah ke daerah selatan D. Towuti. Untuk sampai ke daerah itu dapat dilakukan dengan berkeliling sepanjang pantai danau yang memerlukan beberapa hari perjalanan atau dengan cara menyeberangi danau dengan memakai perahu layar yang waktunya relatif lebih cepat dan santai. Untuk menyeberanginya perlu mencarter sebuah perahu layar dengan waktu tempuh belasan jam. Setelah perahu carteran diperoleh, sayapun siap-siap untuk berlayar dan pemilik perahu menyarankan agar perlayaran dimulai sekitar pukul 21.00 malam, agar perahu dapat berlayar tanpa didayung dan bergerak dengan tiupan angin sama seperti kalau berlayar di laut. Kalau berlayar di laut kita harus berbekal air tawar dari daratan, dalam perlayaran ini kita tidak perlu khawatir kekurangan air tawar, karena air tawar tersedia melimpah di kiri-kanan perahu kita tinggal menyiduknya saja. Setelah berlayar belasan jam lamanya, sampailah kami di pantai selatan danau sekitar pukul l4.00 esok harinya dan mendirikan kemah. Mulai esok harinya saya membuat lintasan selama beberapa hari di daerah selatan danau Towuti. Setelah lintasan dirasa cukup, saya diperintahkan untuk melanjutkan ke daerah Teluk Kolono di Sulawesi Tenggara. Karena daerahnya jauh, saya dipindahkan dengan menggunakan helicopter. Di daerah T. Kolono saya berhasil membuat beberapa lintasan dan setelah cukup, saya kembali diperintahkan untuk pindah ke daerah Wawotobi yang berada didaerah timur Sulawesi Tenggara. Kali ini saya tidak dipindahkan dengan helkopter, tapi harus menggunakan perahu, untuk keperluan pindahan kembali saya harus mencarter perahu sebagai alat transportasi mengelilingi semenanjung tenggara P. Sulawesi. Saya berangkat dari T.Kolono sekitar pukul 20.00 dan sampai ke-esokan harinya di daerah Wawotobi sekitar pkl. 11.00. Di daerah ini saya membuat lintasan di sekitar aliran S. Konaweha selama beberapa hari. Setelah cukup saya kembali ke Malili dengan dijemput helicopter

e. Selama melakukan lintasan-lintasan di atas, ada 2 kejadian yang cukup bisa dikatan membahayakan keselamatan saya, namun karena Tuhan melindungi saya, sayapun selamat dari ancaman yang membahayakan tersebut. Peristiwa yang terjadi adalah:
Pada suatu hari saya melakukan lintasan dan setelah kaki membawa saya berjam-jam perjalanan dan kaki sudah mulai terasa penat, saya merasa perlu untuk beristirahat sejenak dan mencari tempat yang teduh. Setelah menemukan tempat yang baik dan dianggap aman dibawah sebuah pohon yang besar, sayapun istirahat. Tidak jauh dari tempat saya beristirahat ada tumpukan kayu kering yang sudah lapuk. Setelah istirahat dirasakan cukup, saya siap untuk melanjutkan perjalanan lintasan saya dan sambil berdiri membungkuk saya membetulkan tali sepatu sambil memeriksa kiri kanan mungkin ada barang yang tertinggal, secara tidak sengaja saya melihat dibawah tumpukan kayu yang lapuk tersebut seekor ular piton besar juga sedang istirahat dilihat dari possisinya yang melingkar. Alhamdulilllaah selama istirahat saya tidak sampai membangunkan sang ular dari tidurnya; yang pasti ular itu sudah jauh lebih lama sampai ke tempat itu mungkin sudah bejam-jam bahkan berhari-hari setelah menyantap mangsanya.
f. Pada lintasan yang lain, saya harus melintasi punggungan dan lembah bukit yang bergelombang. Pada saat sampai ke salah satu punggungan, saya tiba-tiba bertemu dengan seekor anoa binatang khas Sulawesi; kami sama-sama kaget saya terhenyak dan berhenti , demikian pula sang anoapun bergerak; untungnya ia bergerak tidak kearah saya datang, tapi menyimpang menjauhi saya. Mungkin pada pikiran dan pendengarannya ada seekor anoa lain yang datang dari arah depannya dan dia berusaha menghindar.

g. Waktu membuat lintasan di sekitar pantai Sulawesi Tenggara, saya harus menggunakan sarana transportasi perahu. Untuk itu saya memerlukan orang yang mahir mendayung dan mengetahui dan mengenal daerah sekitarnya. Orang yang dipilih adalah penduduk setempat, dan setelah beberapa hari bekerja, ia mengaku bahwa dia adalah mantan anggota gerombolan Kahar Muzakar (pemimpin pemberontak di Sulawesi selatan dan tenggara) berpangkat letnan. Pada waktu masuk ke pedalaman, saya masih sering menemukan tempat bekas persembunyian mereka berupa gubug-gubug yang sudah rusak

PENGALAMAN YANG KURANG MENYENANGKAN
Waktu melakukan eksplorasi di daerah La Sua-Sua yang letaknya di daerah pantai Sulawesi Selatan , suatu hari untuk mencapai ke lokasi kegiatan supaya sampai lebih cepat dipakai lah perahu. Karena perahu yang dipakai terlalu kecil sedang orang yang perlu diangkut cukup banyak, sampai di tengah perahu oleng dan terbalik. Alhamdulillaah kami semua selamat dan dapat membalikkan kembali perahu ke posisi semula dan kegiatan hari itu dibatalkan.

CERITA YANG LUCU
Untuk program doctoral tahun 60-an,seorang mahasiswa ITB ditugaskan untuk melakukan pemetaan geologi selama 3 bulan yang dilakukan dalam 2 periode a’ 1,5 bulan. Pada awalnya daerah pemetaan saya terletak di utara Banjarnegara,namun karena di daerah yang akan saya petakan beberapa hari sebelumnya telah terjadi pembunuhan yang diduga dilakukan oleh anggota gerombolan DITII (Darul Islam, Tentara Islam Indonesia), maka saya dipindahkan ke daerah baru di Tulungagung selatan di daerah Campur Darat.
Setelah pemetaan selesai, maka untuk pengecekan lapangan Jurusan Geologi ITB meminta Drs.R.P. Kusumadinata sebagai mentor. Pengecekan lapangan dilakukan di beberapa lokasi yang mewakili sebaran satuan peta di daerah yang dipetakan. Suatu hari sampailah kami di satuan peta breksi vulkanik yang tersingkap di dinding sebuah bukit. Saya menunjukkan singkapan itu dari bawah tanpa mendatanginya, karena saya melihat singkapan itu menunjukkan indikasi telah terbakar entah disengaja atau tidak oleh penduduk setempat. Sang Mentor mungkin tidak percaya alasan yang saya kemukakan atau mungkin juga ingin memelonco saya. Beliau memerintahkan saya untuk mendatangi singkapan itu. Tentu saja untuk sampai ke singkapan itu saya harus menembus sisa pepohonan yang tidak habis terbakar; dan akibatnya baju saya tercoreng-coreng hitam oleh jelaga kayu yang terbakar, bahkan mungkin sampai ke muka saya. Lama sesudah kejadian itu, kalau Prof. Dr. R.P. Kusumadinata bertemu dengan saya selalu berujar “KABEULEUM” artinya terbakar.